Menangis.
Ia menangis dalam malam kelabu. Kulit terasa perih. Setetes air dari mata
begitu membakar.
Selalu
ia dengungkan kalimat itu. Aku tidak salah. Aku tidak salah. Tapi, apa aku
salah?
Kelopak
itu akhirnya terbuka. Sorot menyedihkan terpancar saat itu juga. Seketika
matanya kembali tertutup kala rintik-rintik itu menusuknya. Perih. Sebagaimana
butiran air itu menghunus tajam kulitnya.
Ia
menangis. Apa langit juga sedang menangis? Kenapa? Apa ia juga bersalah?
Gemerisik
di sekitarnya kian mengganggu. Menimbulkan refleksi hatinya yang berantakkan.
Tapi, ia hanya diam. Biarpun mengganggu, hanya itulah yang menemaninya. Aliran
air dari atasnya tak ia hiraukan. Dibiarkannya mengikuti lekuk wajah untuknya
sampai ke tanah bawah. Lagipula, apa yang ia punya sekarang? Baginya, payung
pun tiada berguna. Hatinya terlanjur basah. Sakit sudah menghujamnya.
Ia
mulai mengambil langkah. Satu per satu hingga ia sampai di tengah-tengah taman
bermain itu. Penerangan yang tak seberapa serta hujan kali ini menambah suram
tempat yang penuh tawa di pagi harinya.
Luna,
namanya, tak tahu harus bagaimana lagi. Sebuah kesalahan besar telah mengambil
alih benaknya. Mungkin ia memang tak sepenuhnya salah, sebagaimana ia berusaha
menyangkalnya selama ini. Tapi, sebesar apapun usahanya melupakannya, gambaran
itu selalu mengusiknya.
Aku tak salah. Aku benar-benar tak salah.
Dan
kakinya tak lagi mampu menopangnya. Jatuh sudah tubuhnya di alas taman itu.
Bajunya kotor. Ia tak peduli. Dan tangis yang hanya setetes itu akhirnya
terpecah ruah menjadi beberapa.
Kecewa. Ia sangat kecewa. Tangan lembutnya telah melakukan suatu kesalahan
besar. Matanya menatap getir telapak tangannya. Telapak yang tanpa ia sangka
telah merenggut paksa benda berharganya.
***
"Ayah!
Aku ingin menjadi koki."
"Apa?"
ayahnya mengerutkan alis heran di samping matanya yang terfokus pada koran
harian di tangannya.
"Aku
ingin menjadi koki." Luna mengulang.
"Kenapa?
Kau lebih baik dalam bisnis, Nak."
"Tapi,
aku suka memasak, Yah."
Ayahnya
menurunkan korannya dan menatapnya sungguh-sungguh.
"Kemampuanmu
berbisnis lebih meyakinkan, Luna. Ayah yakin kau hebat meneruskan bisnis Ayah
nanti."
Dan
amarah seketika itu meraup hatinya. "Jadi, Ayah hanya ingin memanfaatkan kemampuanku?
Untuk bisnis Ayah?"
"Ayah
pikir kau bisa memahaminya."
"Ta-tapi
Ayah―"
"Luna!
Ayah mengandalkanmu."
Luna
kehilangan kata-kata. Ia merengut kesal. Dan hentakan kaki itu bagai refleksi
kejengkelan hatinya.
BLAM
Bahkan
ia tak peduli bila pintu kamarnya sampai rusak sekalipun karena tingkahnya.
Luna tak suka. Memasak adalah hobinya. Ia menyukainya. Sangat.
Selama
ini, ia selalu mengikuti kemauan ayahnya. Belajar di sekolah swasta favorit
pilihan ayahnya. Kursus sore pilihan ayahnya. Terkurung di rumah juga karena
ayahnya. Dan sebenarnya, dengan sangat berat hati ia memilih jurusan akuntansi
pun karena ayahnya. Padahal ia sangat ingin bersinggah di tata boga.
Luna
menghempaskan dirinya di kasurnya. Air mata mengalir sejadi-jadinya. Hatinya
pun tak kalah menjerit. Luna hanya ingin melakukan sesuatu yang diinginkannya.
Yang membuatnya senang. Yang walaupun sulit sekalipun, ia tetap bahagia.
Memasak
adalah hal yang disukainya. Kegiatan kecil yang menyenangkan. Dan kegiatan
kecil itu adalah penghubungnya dengan mendiang ibunya yang telah lama pergi. Ibunya sangat suka memasak. Cita-citanya ingin menjadi koki. Tapi, beliau lebih
dulu dipanggil Yang Maha Kuasa sebelum cita-cita itu terwujud. Dan mewujudkan
impian ibunya menambah semangatnya untuk menjadi koki.
Luna
harus bisa. Ia harus menjadi koki. Apapun yang terjadi, ia akan melakukannya.
Biarlah ayahnya melawan. Ia harus membuat ayahnya tersadar bahwa ia juga
menginginkan kehidupannya. Kehidupan atas kuasanya sendiri. Lagipula, untuk apa
pujian manis ayahnya setiap kali masakannya dihidangkan kalau ternyata ayahnya
tak mendukungnya?
Luna
harus merubah pemikiran itu.
***
"Pagi,
Ayah!" sapa Luna seceria mungkin. Ia mencium pipi ayahnya yang sedang
membaca koran pagi.
"Kau
semangat sekali. Ada apa?"
"Hehe.
Hari ini teman-teman mengajakku jalan-jalan sepulang sekolah ke taman bermain.
Mereka punya kejutan untukku."
"Siapa
temanmu? Pulang jam berapa?" Ayah Luna mulai kawatir.
Sebagai
balasannya, Luna memutar mata bosan. "Ayah! Teman sekelasku perempuan
semua. Dan tentu saja aku pulang sebelum malam. Tenang saja, Yah!"
Dan
itu membuat ayahnya tersenyum.
"Oh
ya! Aku juga punya kejutan untuk Ayah."
Tanpa
menunggu respon ayahnya, Luna melesat pergi menuju dapur. Menimbulkan mimik
heran di wajah ayahnya.
Tak
berapa lama, Luna kembali dengan nampan berisi makanan. Dan seketika wajah
ayahnya bersinar melihat apa yang tersaji di dalamnya.
"Massaman Curry" tanya ayahnya penuh rasa kagum.
Luna
mengangguk semangat. "Iya."
"Kupikir
hanya ibumu yang bisa membuatnya."
"Ayah!
Aku juga bagian dari ibu, ingat?"
"Haha!
Benar juga."
"Ayo!
Dicoba, Yah!"
Ayahnya
mengangguk kemudian mulai melahap makanannya sedikit demi sedikit.
"Ayah
ingin melihat bagaimana membuatnya? Sangat fantastik loh," tawarnya.
"Apa
tak terlambat?"
"Hari
ini aku berangkat agak siang. Jadi, mau melihatnya?"
Ayahnya
tampak berpikir sejenak. "Baiklah. Ayah akan lihat."
"Yei!"
Dan Luna langsung menarik tangan ayahnya menuju dapur. Ia langsung memakai
apron kuning milik ibunya dulu dan mulai menyiapkan bahan-bahannya. Ayahnya
hanya mengamatinya sambil bersandar di bingkai pintu.
Setelah
semua siap, Ino mulai menjalankan aksinya. Memanaskan panggangan,
memotong-motong bumbu. Serta mencincang dagingnya sesuai resep yang tertera
rapi di kepalanya.
"Ayah!"
panggilnya pelan di sela-sela kegiatannya memotong bumbu.
"Ya?"
"Saat
aku diberitahu ibu tentang resep ini, aku merasa kesulitan bahkan sebelum
mencobanya."
Ayahnya
hanya diam mendengarkan.
"Tapi,
setelah mencoba, walaupun akhirnya gagal, ternyata mengasyikkan. Dan begitu
berhasil, aku senang sekali."
"Luna!
Apa yang ingin kau katakan pada Ayah?" Tampaknya, ayahnya sudah mengetahui
maksud Luna yang sebenarnya.
Luna
tersenyum ke arahnya. "Aku ingin Ayah tahu kalau aku menyukai masak.
Rasanya menyenangkan sekali."
Ayah
Luna berjalan mendekatinya. Ia mengusap ujung kepala Luna lembut, layaknya
seorang ayah yang memenangkan anaknya yang tengah bersedih. Membuat Luna menghentikan
kegiatannya sementara.
"Ayah
hanya ingin kau hidup tenang nantinya. Kau banyak prestasi di bidang bisnis.
Banyak peluang kerja setelah kau lulus nanti."
"Tapi
aku benar-benar ingin menjadi koki, Ayah. Aku menyukainya." Luna mulai
melawan walaupun di hatinya terbesit rasa bersalah karena telah membentak
ayahnya. "Menjadi koki adalah cita-cita ibu. Aku ingin
mewujudkannya."
Ayahnya
mengerutkan alis. "Kau ingin mewujudkan cita-cita ibumu? Lalu bagaimana
dengan Ayah? Apa kau tak ingin mewujudkan cita-cita Ayah?"
Tercekat.
Luna berusaha mempertahankan pendiriannya. "A-aku tak ingin membedakan
Ayah atau ibu. Aku sayang kalian berdua. Tapi, aku juga menginginkan hidupku
sendiri. Cita-citaku sendiri. Aku ingin menjadi koki."
Dan
ayahnya tak bisa menahannya lagi. Ia mencekram kedua bahu Luna. "Luna!
Dengarkan Ayah! Kau harus menjadi seorang pebisnis. Ayah tahu itu yang terbaik
untukmu."
Luna
pun sama. Ia sudah tak bisa menahannya lagi. Ia sangat ingin ayahnya mengerti
dirinya. Bahkan ia sampai bangun pagi-pagi hanya untuk mempelajari resep
rahasia ibunya tentang makanan favorit ayahnya. Luna hanya ingin ayahnya
mengerti dirinya, mengerti keinginannya. Membiarkannya menjadi manusia yang berpendirian.
Tapi,
ternyata hati ayahnya tak tergerak sedikit pun. Usahanya berujung pada jalan
buntu.
Dengan
kumpulan amarah dan kesedihan, Luna memberontak dari lengan ayahnya. Tanpa
disadarinya tangannya masih menggenggam pisau bumbunya. Dan tiba-tiba pisau itu
menggores tepat pergelangan tangan kanan ayahnya. Menimbulkan desahan dari
bibir ayahnya.
Seketika
ia mematung. Ayahnya pun tak kalah menatap horor darah yang mengalir. Ia
beralih pada putrinya.
Jantung
Luna mulai bergemuruh. Pikirannya meliar dengan berbagai dugaan yang tiba-tiba
menghantam. Ia mendekati ayahnya kawatir yang kini mulai sesak nafas.
"Ayah!
Ma-maafkan aku! Aku tak sengaja. Ayah!"
Tapi,
ayahnya hanya diam seraya nafasnya yang semakin memburu. Luna sangat takut. Ia
tahu benar apa yang akan terjadi. Ia menggores tepat ke titik nadi di
pergelangan ayahnya. Ia benar-benar takut bila dugaannya benar.
"Bertahanlah,
Yah! Aku akan panggil dokter."
Belum
sempat ia melangkah pergi, tangan kiri ayahnya menahannya. Ia tersenyum hangat
pada Luna.
"A-ayah
sayang Luna. Maafkan Ayah! Ja-jadilah orang yang bahagia."
Dan
dunia Luna seketika hancur kala tangan ayahnya terkulai lemas dan manik hitam
itu tertutup kelopak mata.
Ayahnya
pergi. Meninggalkannya. Luna.. telah membunuh ayahnya sendiri.
***
Tanpa
disadarinya, air mata kembali mengalir membasahi pipi. Ia sungguh menyesal.
Rasa sesak itu kembali muncul. Ia telah membuat kesalahan besar. Setengah dari
hidupnya menghilang. Ia salah. Ia-lah yang patut disalahkan.
Dua
hal yang paling berharga dari hidupnya adalah sosok ibu tercinta dan
cita-citanya menjadi koki. Dan begitu kejadian mengerikan ini terjadi, ia baru
sadar, ada sehelai daun hijau lain yang berharga baginya. Ia kira, harapan itu
akan terjatuh oleh desakan sang Ayah. Namun, karena kekeraskepalaannya
mempertahankan harapan kecil itu, bukan daun cita-cita yang terjatuh, melainkan
daun lain yang tanpa disadarinya lebih berharga. Ayahnya pergi meninggalkannya.
Menyusul sang Ibu dan pergi dari sisinya.
Ia
pun sendiri sekarang. Meratapi penyesalannya yang mungkin.. takkan pernah lepas
dari hatinya.
Bersama
sang langit yang turut bersedih, ia menangis.