Tuesday, March 12, 2019

Sehelai Daun Terjatuh

Menangis. Ia menangis dalam malam kelabu. Kulit terasa perih. Setetes air dari mata begitu membakar.
Selalu ia dengungkan kalimat itu. Aku tidak salah. Aku tidak salah. Tapi, apa aku salah?
Kelopak itu akhirnya terbuka. Sorot menyedihkan terpancar saat itu juga. Seketika matanya kembali tertutup kala rintik-rintik itu menusuknya. Perih. Sebagaimana butiran air itu menghunus tajam kulitnya.
Ia menangis. Apa langit juga sedang menangis? Kenapa? Apa ia juga bersalah?
Gemerisik di sekitarnya kian mengganggu. Menimbulkan refleksi hatinya yang berantakkan. Tapi, ia hanya diam. Biarpun mengganggu, hanya itulah yang menemaninya. Aliran air dari atasnya tak ia hiraukan. Dibiarkannya mengikuti lekuk wajah untuknya sampai ke tanah bawah. Lagipula, apa yang ia punya sekarang? Baginya, payung pun tiada berguna. Hatinya terlanjur basah. Sakit sudah menghujamnya.
Ia mulai mengambil langkah. Satu per satu hingga ia sampai di tengah-tengah taman bermain itu. Penerangan yang tak seberapa serta hujan kali ini menambah suram tempat yang penuh tawa di pagi harinya.
Luna, namanya, tak tahu harus bagaimana lagi. Sebuah kesalahan besar telah mengambil alih benaknya. Mungkin ia memang tak sepenuhnya salah, sebagaimana ia berusaha menyangkalnya selama ini. Tapi, sebesar apapun usahanya melupakannya, gambaran itu selalu mengusiknya.
Aku tak salah. Aku benar-benar tak salah.
Dan kakinya tak lagi mampu menopangnya. Jatuh sudah tubuhnya di alas taman itu. Bajunya kotor. Ia tak peduli. Dan tangis yang hanya setetes itu akhirnya terpecah ruah menjadi beberapa.
Kecewa. Ia sangat kecewa. Tangan lembutnya telah melakukan suatu kesalahan besar. Matanya menatap getir telapak tangannya. Telapak yang tanpa ia sangka telah merenggut paksa benda berharganya.
***
"Ayah! Aku ingin menjadi koki."
"Apa?" ayahnya mengerutkan alis heran di samping matanya yang terfokus pada koran harian di tangannya.
"Aku ingin menjadi koki." Luna mengulang.
"Kenapa? Kau lebih baik dalam bisnis, Nak."
"Tapi, aku suka memasak, Yah."
Ayahnya menurunkan korannya dan menatapnya sungguh-sungguh.
"Kemampuanmu berbisnis lebih meyakinkan, Luna. Ayah yakin kau hebat meneruskan bisnis Ayah nanti."
Dan amarah seketika itu meraup hatinya. "Jadi, Ayah hanya ingin memanfaatkan kemampuanku? Untuk bisnis Ayah?"
"Ayah pikir kau bisa memahaminya."
"Ta-tapi Ayah―"
"Luna! Ayah mengandalkanmu."
Luna kehilangan kata-kata. Ia merengut kesal. Dan hentakan kaki itu bagai refleksi kejengkelan hatinya.
BLAM
Bahkan ia tak peduli bila pintu kamarnya sampai rusak sekalipun karena tingkahnya.
Luna tak suka. Memasak adalah hobinya. Ia menyukainya. Sangat.
Selama ini, ia selalu mengikuti kemauan ayahnya. Belajar di sekolah swasta favorit pilihan ayahnya. Kursus sore pilihan ayahnya. Terkurung di rumah juga karena ayahnya. Dan sebenarnya, dengan sangat berat hati ia memilih jurusan akuntansi pun karena ayahnya. Padahal ia sangat ingin bersinggah di tata boga.
Luna menghempaskan dirinya di kasurnya. Air mata mengalir sejadi-jadinya. Hatinya pun tak kalah menjerit. Luna hanya ingin melakukan sesuatu yang diinginkannya. Yang membuatnya senang. Yang walaupun sulit sekalipun, ia tetap bahagia.
Memasak adalah hal yang disukainya. Kegiatan kecil yang menyenangkan. Dan kegiatan kecil itu adalah penghubungnya dengan mendiang ibunya yang telah lama pergi. Ibunya sangat suka memasak. Cita-citanya ingin menjadi koki. Tapi, beliau lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa sebelum cita-cita itu terwujud. Dan mewujudkan impian ibunya menambah semangatnya untuk menjadi koki.
Luna harus bisa. Ia harus menjadi koki. Apapun yang terjadi, ia akan melakukannya. Biarlah ayahnya melawan. Ia harus membuat ayahnya tersadar bahwa ia juga menginginkan kehidupannya. Kehidupan atas kuasanya sendiri. Lagipula, untuk apa pujian manis ayahnya setiap kali masakannya dihidangkan kalau ternyata ayahnya tak mendukungnya?
Luna harus merubah pemikiran itu.
***
"Pagi, Ayah!" sapa Luna seceria mungkin. Ia mencium pipi ayahnya yang sedang membaca koran pagi.
"Kau semangat sekali. Ada apa?"
"Hehe. Hari ini teman-teman mengajakku jalan-jalan sepulang sekolah ke taman bermain. Mereka punya kejutan untukku."
"Siapa temanmu? Pulang jam berapa?" Ayah Luna mulai kawatir.
Sebagai balasannya, Luna memutar mata bosan. "Ayah! Teman sekelasku perempuan semua. Dan tentu saja aku pulang sebelum malam. Tenang saja, Yah!"
Dan itu membuat ayahnya tersenyum.
"Oh ya! Aku juga punya kejutan untuk Ayah."
Tanpa menunggu respon ayahnya, Luna melesat pergi menuju dapur. Menimbulkan mimik heran di wajah ayahnya.
Tak berapa lama, Luna kembali dengan nampan berisi makanan. Dan seketika wajah ayahnya bersinar melihat apa yang tersaji di dalamnya.
"Massaman Curry" tanya ayahnya penuh rasa kagum.
Luna mengangguk semangat. "Iya."
"Kupikir hanya ibumu yang bisa membuatnya."
"Ayah! Aku juga bagian dari ibu, ingat?"
"Haha! Benar juga."
"Ayo! Dicoba, Yah!"
Ayahnya mengangguk kemudian mulai melahap makanannya sedikit demi sedikit.
"Ayah ingin melihat bagaimana membuatnya? Sangat fantastik loh," tawarnya.
"Apa tak terlambat?"
"Hari ini aku berangkat agak siang. Jadi, mau melihatnya?"
Ayahnya tampak berpikir sejenak. "Baiklah. Ayah akan lihat."
"Yei!" Dan Luna langsung menarik tangan ayahnya menuju dapur. Ia langsung memakai apron kuning milik ibunya dulu dan mulai menyiapkan bahan-bahannya. Ayahnya hanya mengamatinya sambil bersandar di bingkai pintu.
Setelah semua siap, Ino mulai menjalankan aksinya. Memanaskan panggangan, memotong-motong bumbu. Serta mencincang dagingnya sesuai resep yang tertera rapi di kepalanya.
"Ayah!" panggilnya pelan di sela-sela kegiatannya memotong bumbu.
"Ya?"
"Saat aku diberitahu ibu tentang resep ini, aku merasa kesulitan bahkan sebelum mencobanya."
Ayahnya hanya diam mendengarkan.
"Tapi, setelah mencoba, walaupun akhirnya gagal, ternyata mengasyikkan. Dan begitu berhasil, aku senang sekali."
"Luna! Apa yang ingin kau katakan pada Ayah?" Tampaknya, ayahnya sudah mengetahui maksud Luna yang sebenarnya.
Luna tersenyum ke arahnya. "Aku ingin Ayah tahu kalau aku menyukai masak. Rasanya menyenangkan sekali."
Ayah Luna berjalan mendekatinya. Ia mengusap ujung kepala Luna lembut, layaknya seorang ayah yang memenangkan anaknya yang tengah bersedih. Membuat Luna menghentikan kegiatannya sementara.
"Ayah hanya ingin kau hidup tenang nantinya. Kau banyak prestasi di bidang bisnis. Banyak peluang kerja setelah kau lulus nanti."
"Tapi aku benar-benar ingin menjadi koki, Ayah. Aku menyukainya." Luna mulai melawan walaupun di hatinya terbesit rasa bersalah karena telah membentak ayahnya. "Menjadi koki adalah cita-cita ibu. Aku ingin mewujudkannya."
Ayahnya mengerutkan alis. "Kau ingin mewujudkan cita-cita ibumu? Lalu bagaimana dengan Ayah? Apa kau tak ingin mewujudkan cita-cita Ayah?"
Tercekat. Luna berusaha mempertahankan pendiriannya. "A-aku tak ingin membedakan Ayah atau ibu. Aku sayang kalian berdua. Tapi, aku juga menginginkan hidupku sendiri. Cita-citaku sendiri. Aku ingin menjadi koki."
Dan ayahnya tak bisa menahannya lagi. Ia mencekram kedua bahu Luna. "Luna! Dengarkan Ayah! Kau harus menjadi seorang pebisnis. Ayah tahu itu yang terbaik untukmu."
Luna pun sama. Ia sudah tak bisa menahannya lagi. Ia sangat ingin ayahnya mengerti dirinya. Bahkan ia sampai bangun pagi-pagi hanya untuk mempelajari resep rahasia ibunya tentang makanan favorit ayahnya. Luna hanya ingin ayahnya mengerti dirinya, mengerti keinginannya. Membiarkannya menjadi manusia yang berpendirian.
Tapi, ternyata hati ayahnya tak tergerak sedikit pun. Usahanya berujung pada jalan buntu.
Dengan kumpulan amarah dan kesedihan, Luna memberontak dari lengan ayahnya. Tanpa disadarinya tangannya masih menggenggam pisau bumbunya. Dan tiba-tiba pisau itu menggores tepat pergelangan tangan kanan ayahnya. Menimbulkan desahan dari bibir ayahnya.
Seketika ia mematung. Ayahnya pun tak kalah menatap horor darah yang mengalir. Ia beralih pada putrinya.
Jantung Luna mulai bergemuruh. Pikirannya meliar dengan berbagai dugaan yang tiba-tiba menghantam. Ia mendekati ayahnya kawatir yang kini mulai sesak nafas.
"Ayah! Ma-maafkan aku! Aku tak sengaja. Ayah!"
Tapi, ayahnya hanya diam seraya nafasnya yang semakin memburu. Luna sangat takut. Ia tahu benar apa yang akan terjadi. Ia menggores tepat ke titik nadi di pergelangan ayahnya. Ia benar-benar takut bila dugaannya benar.
"Bertahanlah, Yah! Aku akan panggil dokter."
Belum sempat ia melangkah pergi, tangan kiri ayahnya menahannya. Ia tersenyum hangat pada Luna.
"A-ayah sayang Luna. Maafkan Ayah! Ja-jadilah orang yang bahagia."
Dan dunia Luna seketika hancur kala tangan ayahnya terkulai lemas dan manik hitam itu tertutup kelopak mata.
Ayahnya pergi. Meninggalkannya. Luna.. telah membunuh ayahnya sendiri.
***
Tanpa disadarinya, air mata kembali mengalir membasahi pipi. Ia sungguh menyesal. Rasa sesak itu kembali muncul. Ia telah membuat kesalahan besar. Setengah dari hidupnya menghilang. Ia salah. Ia-lah yang patut disalahkan.
Dua hal yang paling berharga dari hidupnya adalah sosok ibu tercinta dan cita-citanya menjadi koki. Dan begitu kejadian mengerikan ini terjadi, ia baru sadar, ada sehelai daun hijau lain yang berharga baginya. Ia kira, harapan itu akan terjatuh oleh desakan sang Ayah. Namun, karena kekeraskepalaannya mempertahankan harapan kecil itu, bukan daun cita-cita yang terjatuh, melainkan daun lain yang tanpa disadarinya lebih berharga. Ayahnya pergi meninggalkannya. Menyusul sang Ibu dan pergi dari sisinya.
Ia pun sendiri sekarang. Meratapi penyesalannya yang mungkin.. takkan pernah lepas dari hatinya.
Bersama sang langit yang turut bersedih, ia menangis.

No comments:

Post a Comment

Waspada Modus Penipuan Jual Beli Ayam: Mencatut Nama PT Japfa Comfeed Indonesia

Belakangan ini, jagat media sosial—khususnya Facebook—sedang marak dengan modus penipuan yang menyasar para peternak atau pembeli ayam. Miri...