Friday, March 29, 2019

How to Diet like the Prophet SAW? | Dengan Madu. Diet Ala Rasulullah SAW

"Hampir setiap pagi aku selalu bisa membuang lemakku."

Siapa tak kenal dengan makanan ini?

Makanan yang biasanya digadang-gadang "mahal" oleh orang Indonesia atau "kalau nggk mahal ya nggak murni." Memang benar, di Indonesia, minuman ini cenderung mahal, terutama bagi kalangan dengan ekonomi menengah ke bawah. Padahal, apabila kita lihat dari segi kesehatan, makanan ini mempunyai banyak kegunaan dan manfaat, untuk kesehatan maupun untuk kecantikan. Dikarenakan harga madu yang 'mahal' itu, kebanyakan orang Indonesia cenderung lari ke obat-obatan kimia.

Mari kita menoleh ke salah satu sunnah Nabi tentang makanan ini, yang luar biasanya pula disebutkan spesifik dalam QS An-Nahl ayat 69,

يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُون

“…Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang memikirkan.”

Dikutib dari buku karangan Syekh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, "Rahasia Pengobatan NABI SAW" diterangkan bahwa Rasul SAW biasa melakukan terapi pengobatan Islami yang dalam Islam biasa disebut pengobatan Nabawi.

Madu mengandung enzim-enzim hidup yang amat diperlukan manusia untuk mengingkatkan fungsi tubuh yang optimal. Bahkan ada yang mengatakan 1000 manfaat madu. Madu juga dapat membantu penderita diabetes karena mengandung 69% glukosa dan fruktosa. Kadar glukosa yang lebih banyak dari fruktosa ini tidak meningkatkan trigliserida atau lemak dalam darah namun tetap bisa menjaga kadar gula darah, sementara fruktosa bersifat lipogenik atau memproduksi lebih banyak lemak.

Manfaat madu lainnya dapat digunakan untuk kecantikan kulit, sebagai obat luka atau luka bakar karena mengandung antiseptik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu, dan juga dapat menjadi obat batuk dan pilek menurut Dr. Hj. Tien Chudrin Tirtawinata Sp.GK.

Nah, lalu apa hubungan madu dengan diet?

Rasulullah biasa makan madu di pagi hari saat perut masih kosong. Ini pula yang kucoba terapkan dalam keseharianku. Aku biasa meminumnya dengan air hangat, yaitu sesendok penuh madu dan setengah gelas air hangat. Kalaupun tidak ada bisa kok kita pakai air dingin(bukan air es ya).

Untuk waktu minumnya jam berapa?

Di dalam hadist tidak desebutkan secara spesifik pukul berapa kita dianjurkan minum madu, menurutku pagi hari saat perut masih kosong bagi seorang muslim yaitu pagi hari saat akan melakukan sholah subuh atau ketika bagun tidur di pagi hari.

Nah, berdasarkan pengalaman madu ini tak langsung berefek di hari ketika pertama kali kamu meminumnya. Aku butuh sekitar tiga minggu untuk bisa merasakan efeknya (mungkin karena sistem pencernaanku nggak segitu baik kali ya). Selang satu hingga dua jam meminum madu aku biasa pup ke kamar mandi. Jadi, bisa dibilang makanan yang aku konsumsi di hari sebelumnya bisa dengan lancar keluar di esoknya. Sehingga, pagi hari perut terasa ringan dan siap untuk diberi nutrisi baru yang masih fresh.


Memang dari segi membantu diet takkan terlihat perbedaan secara signifikan, karena madu dengan pola makan seperti ini cenderung menstabilkan berat tubuh agar tidak menimbun lemak lama. Jadi, selain mengkonsumsi madu, usahakan untuk memilih makanan lain yang bisa membantu diet seperti apel. Penjelasannya ada di How to Diet like the Prophet SAW? Bab Apel. InsyaAllah diet bisa lancar dan sehat.

Namun, jangan lupa kesehatan adalah yang harus dinomorsatukan. Jangan terlalu berambisi untuk diet tapi kesehatan tidak diperhatikan. Pemilihan makanan dan pola makan itu sendiri sudah mempengaruhi diet kita, apalagi bila ditambah dengan olah raga yang cukup.

Itulah secuil pengalaman dariku. Aku sebenarnya tidak dalam mode diet sekarang, tapi "dulu" aku pernah mengalami proses ini dan insyaAllah cara yang kupakai halal sesuai sunnah Rasulullah. Karena aku percaya satu hal, "Al-Qur'an dan Hadist bukanlah sesuatu yang tak mungkin, tapi sesuatu yang masuk akal yang mengagetkan kita."

Jaa ne~. InsyaAllah aku bakal share tips-tips diet ala Rasulullah di artkel berikutnya.

Wassalamu'alaikum.

Monday, March 25, 2019

How to Diet like the Prophet SAW? Dengan Apel. Diet Ala Rasulullah SAW

"Berat badanku turun dari 49.5 kg menjadi 47 ketika aku membiasakan makan apel."

Artikel ini hanya satu versi dari Diet Ala Rasulullah. Bakal ada versi lainnya dari Diet Ala Rasulullah dengan menu diet lainnya.

Menu diet lain ada di How to Diet like the Prophet SAW? Bab Madu.

Lalu, bagaimana cara makan buah apel (termasuk buah-buah lainnya) yang bisa membantu proses diet kita?

Hal ini kerab terselib dari benak para konsumer buah yang sering menjadikan buah-buahan sebagai penutup. Tahukan kalian bahwa buah lebih baik dimakan sebelum makan nasi?

Berdasarkan pengalamanku, suatu ketika Nenek pulang dari pasar Subuh (pasar yang buka di pagi buta, biasanya jam 7 sudah sepi) membawa sekantong plastik berisi apel hijau. Berhubung aku tipe orang yang malas sekali kalau harus memisahkan daging dan kulitnya, jadilah tipe buah favoritku adalah buah-buahan yang kulitnya bisa langsung kita makan.

Nah, buah apelnya kecil-kecil tuh, jadi nggak bakal kekenyangan saat memakannya dan bisa jadi cemilan. Waktu itu aku sama sekali belum tahu manfaat apel untuk diet.


Dikutib dari merdeka.com, kita disarankan untuk makan buah 20-30 menit sebelum makan nasi. Buah mengandung gula dan membutuhkan waktu untuk mencernanya. Maka, disarankan untuk makan buah terlebih dahulu sebelum nasi agar gula bisa dicerna dengan lancar. Selain itu, makan buah sebelum makan membuat perut terasa berisi sehingga mengurangi porsi makan kita dan membantu diet.

Ada sebuah dalil yang disebutkan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah, “Imam An-nawawi telah menyebutkan ketika menjelaskan hadits Abi Al-Haitsam bin Thihan tatkala ia datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan ada Abu Bakar dan Umar. Ia membawa wadah yang berisi kurma basah dan kurma kering, kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata,
‘Makanlah ini (kurma)", kemudian mengambil hidangan dan kemudian pergi.
Imam AN-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini sebagai dalil dianjurkannya mendahulukan makan buah, baru kemudian roti, daging dan makanan pokok lainnya.

Sehingga, nggak heran yang kala itu (cerita di atas) aku hanya menjadikan buah apel sebagai cemilan, eh, selang beberapa hari (3 hari kira-kira ya) aku main lagi ke rumah sepupu cewekku yang kebetulan punya timbangan di rumahnya, ternyata berat badanku turun 2.5 kg. Aku mulai berpikir kebiasaan makan apa yang berbeda yang kulakukan selama liburan itu. Setelah itu, aku mulai mencari informasi mengenai buah apel.

Selain karena yang dipaparkan di atas, ternyata buah apel mengandung serat larut air (pektin). Beberapa fungsi pektin diantaranya yaitu : menurunkan kadar kolesterol LDL, merangsang sistem kekebalan tubuh, dan mengatur insulin agar tidak berlebihan sehingga menyebabkan translokasi GLUT-4 (Glucose Transporter-4) ke membran sel untuk memudahkan glukosa masuk ke jaringan. Masuknya glukosa ke dalam jaringan menyebabkan kadar glukosa di dalam darah turun.

Nah, sudah punya gambaran gimana cara makan buah yang benar sesuai anjuran Rasulullah SAW?

Semoga artikel ini bermanfaat dan apabila ada pertanyaan bisa komen di bawah. Aku bakal posting artikel How to Diet like the Prophet dengan menu lainnya yang pasti berdasarkan pengalamanku juga.

Ja ne~

Sunday, March 17, 2019

Review : Hirunaka no Ryuusei

Hai Minna! Ketemu lagi. Kali ini Zee mau bahas tentang salah satu movie adaptasi dari shoujo manga berjudul "Hirunaka no Ryuusei" yang dalam bahasa Indonesia berarti Bintang Jatuh di Siang Hari. Mana ada?

Yah, namanya aja juga movie.

Well, Zee nggak bakal bahas tentang plotnya karena ku yakin kalian sudah pada pintar mau mencari plotnya atau spoilernya dimana.

Zee cuma bakal review tentang movie-nya saja, bukan anime ya.

Sekilah, mungkin bakal ada yang berkomentar, "buat apa sih bikin review? tinggal tonton aja movienya." yah, kurang lebih aku setuju dengan itu. Tapi, dalam setiap review yang kupaparkan, aku selalu berusaha membahas pesan positif dan nasihat yang bisa kita ambil.

Well, let's get started!

Kenapa aku bahas movienya dan bukan manganya?

Karena sudah bukan rahasia umum lagi kalau movie adalah ringkasan daripada animenya. Jadi, yah jangan berharap kamu dapat setiap detail kejadian sehari-hari dalam movie ini.

Sudah ada gambaran gimana jalan ceritanya dari gambar di bawah ini?

Dan untuk movie yang satu ini, boleh kubicara adalah "terlalu rush". Saking terlalu terburu-burunya kamu kadang harus bertanya-tanya, "kok udah gini ya? harusnya paling nggak ada kejadian kayak ini/itu dulu.". Sepertinya si sutradaranya ingin mengatakan "ini adalah poin-poin pentingnya tapi kalian tetap bakal dapat feelingnya kok."

Jangan dipikir aku membuat kalian supaya tidak nonton movie ini. Tidak, seperti anggapanku tentang si sutradara tadi, movie ini hanya berisi kumpulan poin-poin penting setiap kejadian seperti di adegan ini, si pemain utama menyadari cintanya pada sang sensei, di adegan berikutnya langsung ada proses menyatakan perasaan. Yah, bener-bener rush deh. Namun, kalian bener-bener bisa dapat feelingnya kok. Jadi, jangan terlalu cepat ambil keputusan yah.

Bida dibilang movie ini sangat direkomendasikan buat kalian yang nggak mau repot baca manganya tapi tetap dapat maksud ceritanya.

Movie ini juga menunjukkan adanya perkembangan karakter. Proses berkembangnya kedewasaan dialami setiap pemain utama movie ini. Sehingga sangat bagus buat kalian yang ingin belajar menghadapi masalah kehidupan yang tak jauh-jauh dari rumitnya perasaan.

Untuk endingnya, bener-bener tak kusangka. Aku tipe orang yang suka menebak cerita dan jalan cerita, jadi ketika sebuah cerita berakhir tak sesuai yang kubayangkan berarti cerita itu memang wow. Bagi kalian yang punya sense film yang luar biasa, boleh deh mencoba nonton movie ini.

So, last one, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini?

1. Ada saatnya kamu harus berfikir sebelum bertindak. Pola pikir untuk dua orang berbeda usia (dengan selisih yang jauh) bisa jadi juga berbeda.

2. Selalu jujur dalam perasaanmu. Menyimpan rahasia tak sepenuhnya baik untukmu maupun temanmu.

3. Teruslah berusaha untuk bisa mamahami pasangan hidupmu.

Well, kurasa itu saja yang bisa aku share tentang cerita ini. Kalapun kalian mendapatkan nasihat lain dari movie ini silahkan share di kolom komentar di bawah.

See you on my next review!

Tuesday, March 12, 2019

Sehelai Daun Terjatuh

Menangis. Ia menangis dalam malam kelabu. Kulit terasa perih. Setetes air dari mata begitu membakar.
Selalu ia dengungkan kalimat itu. Aku tidak salah. Aku tidak salah. Tapi, apa aku salah?
Kelopak itu akhirnya terbuka. Sorot menyedihkan terpancar saat itu juga. Seketika matanya kembali tertutup kala rintik-rintik itu menusuknya. Perih. Sebagaimana butiran air itu menghunus tajam kulitnya.
Ia menangis. Apa langit juga sedang menangis? Kenapa? Apa ia juga bersalah?
Gemerisik di sekitarnya kian mengganggu. Menimbulkan refleksi hatinya yang berantakkan. Tapi, ia hanya diam. Biarpun mengganggu, hanya itulah yang menemaninya. Aliran air dari atasnya tak ia hiraukan. Dibiarkannya mengikuti lekuk wajah untuknya sampai ke tanah bawah. Lagipula, apa yang ia punya sekarang? Baginya, payung pun tiada berguna. Hatinya terlanjur basah. Sakit sudah menghujamnya.
Ia mulai mengambil langkah. Satu per satu hingga ia sampai di tengah-tengah taman bermain itu. Penerangan yang tak seberapa serta hujan kali ini menambah suram tempat yang penuh tawa di pagi harinya.
Luna, namanya, tak tahu harus bagaimana lagi. Sebuah kesalahan besar telah mengambil alih benaknya. Mungkin ia memang tak sepenuhnya salah, sebagaimana ia berusaha menyangkalnya selama ini. Tapi, sebesar apapun usahanya melupakannya, gambaran itu selalu mengusiknya.
Aku tak salah. Aku benar-benar tak salah.
Dan kakinya tak lagi mampu menopangnya. Jatuh sudah tubuhnya di alas taman itu. Bajunya kotor. Ia tak peduli. Dan tangis yang hanya setetes itu akhirnya terpecah ruah menjadi beberapa.
Kecewa. Ia sangat kecewa. Tangan lembutnya telah melakukan suatu kesalahan besar. Matanya menatap getir telapak tangannya. Telapak yang tanpa ia sangka telah merenggut paksa benda berharganya.
***
"Ayah! Aku ingin menjadi koki."
"Apa?" ayahnya mengerutkan alis heran di samping matanya yang terfokus pada koran harian di tangannya.
"Aku ingin menjadi koki." Luna mengulang.
"Kenapa? Kau lebih baik dalam bisnis, Nak."
"Tapi, aku suka memasak, Yah."
Ayahnya menurunkan korannya dan menatapnya sungguh-sungguh.
"Kemampuanmu berbisnis lebih meyakinkan, Luna. Ayah yakin kau hebat meneruskan bisnis Ayah nanti."
Dan amarah seketika itu meraup hatinya. "Jadi, Ayah hanya ingin memanfaatkan kemampuanku? Untuk bisnis Ayah?"
"Ayah pikir kau bisa memahaminya."
"Ta-tapi Ayah―"
"Luna! Ayah mengandalkanmu."
Luna kehilangan kata-kata. Ia merengut kesal. Dan hentakan kaki itu bagai refleksi kejengkelan hatinya.
BLAM
Bahkan ia tak peduli bila pintu kamarnya sampai rusak sekalipun karena tingkahnya.
Luna tak suka. Memasak adalah hobinya. Ia menyukainya. Sangat.
Selama ini, ia selalu mengikuti kemauan ayahnya. Belajar di sekolah swasta favorit pilihan ayahnya. Kursus sore pilihan ayahnya. Terkurung di rumah juga karena ayahnya. Dan sebenarnya, dengan sangat berat hati ia memilih jurusan akuntansi pun karena ayahnya. Padahal ia sangat ingin bersinggah di tata boga.
Luna menghempaskan dirinya di kasurnya. Air mata mengalir sejadi-jadinya. Hatinya pun tak kalah menjerit. Luna hanya ingin melakukan sesuatu yang diinginkannya. Yang membuatnya senang. Yang walaupun sulit sekalipun, ia tetap bahagia.
Memasak adalah hal yang disukainya. Kegiatan kecil yang menyenangkan. Dan kegiatan kecil itu adalah penghubungnya dengan mendiang ibunya yang telah lama pergi. Ibunya sangat suka memasak. Cita-citanya ingin menjadi koki. Tapi, beliau lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa sebelum cita-cita itu terwujud. Dan mewujudkan impian ibunya menambah semangatnya untuk menjadi koki.
Luna harus bisa. Ia harus menjadi koki. Apapun yang terjadi, ia akan melakukannya. Biarlah ayahnya melawan. Ia harus membuat ayahnya tersadar bahwa ia juga menginginkan kehidupannya. Kehidupan atas kuasanya sendiri. Lagipula, untuk apa pujian manis ayahnya setiap kali masakannya dihidangkan kalau ternyata ayahnya tak mendukungnya?
Luna harus merubah pemikiran itu.
***
"Pagi, Ayah!" sapa Luna seceria mungkin. Ia mencium pipi ayahnya yang sedang membaca koran pagi.
"Kau semangat sekali. Ada apa?"
"Hehe. Hari ini teman-teman mengajakku jalan-jalan sepulang sekolah ke taman bermain. Mereka punya kejutan untukku."
"Siapa temanmu? Pulang jam berapa?" Ayah Luna mulai kawatir.
Sebagai balasannya, Luna memutar mata bosan. "Ayah! Teman sekelasku perempuan semua. Dan tentu saja aku pulang sebelum malam. Tenang saja, Yah!"
Dan itu membuat ayahnya tersenyum.
"Oh ya! Aku juga punya kejutan untuk Ayah."
Tanpa menunggu respon ayahnya, Luna melesat pergi menuju dapur. Menimbulkan mimik heran di wajah ayahnya.
Tak berapa lama, Luna kembali dengan nampan berisi makanan. Dan seketika wajah ayahnya bersinar melihat apa yang tersaji di dalamnya.
"Massaman Curry" tanya ayahnya penuh rasa kagum.
Luna mengangguk semangat. "Iya."
"Kupikir hanya ibumu yang bisa membuatnya."
"Ayah! Aku juga bagian dari ibu, ingat?"
"Haha! Benar juga."
"Ayo! Dicoba, Yah!"
Ayahnya mengangguk kemudian mulai melahap makanannya sedikit demi sedikit.
"Ayah ingin melihat bagaimana membuatnya? Sangat fantastik loh," tawarnya.
"Apa tak terlambat?"
"Hari ini aku berangkat agak siang. Jadi, mau melihatnya?"
Ayahnya tampak berpikir sejenak. "Baiklah. Ayah akan lihat."
"Yei!" Dan Luna langsung menarik tangan ayahnya menuju dapur. Ia langsung memakai apron kuning milik ibunya dulu dan mulai menyiapkan bahan-bahannya. Ayahnya hanya mengamatinya sambil bersandar di bingkai pintu.
Setelah semua siap, Ino mulai menjalankan aksinya. Memanaskan panggangan, memotong-motong bumbu. Serta mencincang dagingnya sesuai resep yang tertera rapi di kepalanya.
"Ayah!" panggilnya pelan di sela-sela kegiatannya memotong bumbu.
"Ya?"
"Saat aku diberitahu ibu tentang resep ini, aku merasa kesulitan bahkan sebelum mencobanya."
Ayahnya hanya diam mendengarkan.
"Tapi, setelah mencoba, walaupun akhirnya gagal, ternyata mengasyikkan. Dan begitu berhasil, aku senang sekali."
"Luna! Apa yang ingin kau katakan pada Ayah?" Tampaknya, ayahnya sudah mengetahui maksud Luna yang sebenarnya.
Luna tersenyum ke arahnya. "Aku ingin Ayah tahu kalau aku menyukai masak. Rasanya menyenangkan sekali."
Ayah Luna berjalan mendekatinya. Ia mengusap ujung kepala Luna lembut, layaknya seorang ayah yang memenangkan anaknya yang tengah bersedih. Membuat Luna menghentikan kegiatannya sementara.
"Ayah hanya ingin kau hidup tenang nantinya. Kau banyak prestasi di bidang bisnis. Banyak peluang kerja setelah kau lulus nanti."
"Tapi aku benar-benar ingin menjadi koki, Ayah. Aku menyukainya." Luna mulai melawan walaupun di hatinya terbesit rasa bersalah karena telah membentak ayahnya. "Menjadi koki adalah cita-cita ibu. Aku ingin mewujudkannya."
Ayahnya mengerutkan alis. "Kau ingin mewujudkan cita-cita ibumu? Lalu bagaimana dengan Ayah? Apa kau tak ingin mewujudkan cita-cita Ayah?"
Tercekat. Luna berusaha mempertahankan pendiriannya. "A-aku tak ingin membedakan Ayah atau ibu. Aku sayang kalian berdua. Tapi, aku juga menginginkan hidupku sendiri. Cita-citaku sendiri. Aku ingin menjadi koki."
Dan ayahnya tak bisa menahannya lagi. Ia mencekram kedua bahu Luna. "Luna! Dengarkan Ayah! Kau harus menjadi seorang pebisnis. Ayah tahu itu yang terbaik untukmu."
Luna pun sama. Ia sudah tak bisa menahannya lagi. Ia sangat ingin ayahnya mengerti dirinya. Bahkan ia sampai bangun pagi-pagi hanya untuk mempelajari resep rahasia ibunya tentang makanan favorit ayahnya. Luna hanya ingin ayahnya mengerti dirinya, mengerti keinginannya. Membiarkannya menjadi manusia yang berpendirian.
Tapi, ternyata hati ayahnya tak tergerak sedikit pun. Usahanya berujung pada jalan buntu.
Dengan kumpulan amarah dan kesedihan, Luna memberontak dari lengan ayahnya. Tanpa disadarinya tangannya masih menggenggam pisau bumbunya. Dan tiba-tiba pisau itu menggores tepat pergelangan tangan kanan ayahnya. Menimbulkan desahan dari bibir ayahnya.
Seketika ia mematung. Ayahnya pun tak kalah menatap horor darah yang mengalir. Ia beralih pada putrinya.
Jantung Luna mulai bergemuruh. Pikirannya meliar dengan berbagai dugaan yang tiba-tiba menghantam. Ia mendekati ayahnya kawatir yang kini mulai sesak nafas.
"Ayah! Ma-maafkan aku! Aku tak sengaja. Ayah!"
Tapi, ayahnya hanya diam seraya nafasnya yang semakin memburu. Luna sangat takut. Ia tahu benar apa yang akan terjadi. Ia menggores tepat ke titik nadi di pergelangan ayahnya. Ia benar-benar takut bila dugaannya benar.
"Bertahanlah, Yah! Aku akan panggil dokter."
Belum sempat ia melangkah pergi, tangan kiri ayahnya menahannya. Ia tersenyum hangat pada Luna.
"A-ayah sayang Luna. Maafkan Ayah! Ja-jadilah orang yang bahagia."
Dan dunia Luna seketika hancur kala tangan ayahnya terkulai lemas dan manik hitam itu tertutup kelopak mata.
Ayahnya pergi. Meninggalkannya. Luna.. telah membunuh ayahnya sendiri.
***
Tanpa disadarinya, air mata kembali mengalir membasahi pipi. Ia sungguh menyesal. Rasa sesak itu kembali muncul. Ia telah membuat kesalahan besar. Setengah dari hidupnya menghilang. Ia salah. Ia-lah yang patut disalahkan.
Dua hal yang paling berharga dari hidupnya adalah sosok ibu tercinta dan cita-citanya menjadi koki. Dan begitu kejadian mengerikan ini terjadi, ia baru sadar, ada sehelai daun hijau lain yang berharga baginya. Ia kira, harapan itu akan terjatuh oleh desakan sang Ayah. Namun, karena kekeraskepalaannya mempertahankan harapan kecil itu, bukan daun cita-cita yang terjatuh, melainkan daun lain yang tanpa disadarinya lebih berharga. Ayahnya pergi meninggalkannya. Menyusul sang Ibu dan pergi dari sisinya.
Ia pun sendiri sekarang. Meratapi penyesalannya yang mungkin.. takkan pernah lepas dari hatinya.
Bersama sang langit yang turut bersedih, ia menangis.

Waspada Modus Penipuan Jual Beli Ayam: Mencatut Nama PT Japfa Comfeed Indonesia

Belakangan ini, jagat media sosial—khususnya Facebook—sedang marak dengan modus penipuan yang menyasar para peternak atau pembeli ayam. Miri...