Aku ingin sekali bercerita ini dan itu kepadamu. Terkadang aku membayangkan aku seorang diri berjalan ke atas bukit, lalu memilih salah satu dari pohon-pohon besar di sana (sayang sekali Indonesia yang berada di iklim tropis tidak mempunyai pohon yang seperti itu.), kemudian duduk dan memandang kejauhan, merenung, memikirkan apa saja yang pantas dipikirkan saat itu. Dan tak lama kemudian kau datang, entah karena kau yang penasaran kenapa seorang gadis duduk sendirian di bawah pohon, atau karena tidak sengaja ponselmu jatuh saat mengambil foto tak jauh dari posisi dudukku, hingga mau tak mau aku memalingkan wajah untuk melihatmu. Dan muncullah percakapan di antara kita. Nee, As***.
Lebaran 1437 H, kita sama-sama pulang ke kampung halaman kita. Kau yang merantau ke seberang provinsi (oke, agak maksa kesannya) dan aku yang memperjuangkan hidupku demi sepuluk nasi di kota tetangga, akhirnya punya kesempatan bertemu setelah hampir empat tahun lamanya berpisah. Pun begitu, aku tak yakin kau masih mengenaliku yang diam-diam hanya berperan sebagai penggemar gelapmu (Yaah, setidaknya aku bukan penguntit gelap.). Sudah hampir satu minggu aku di kota halamanku tapi tak muncul juga tanda-tanda kita akan bertemu, aku mulai kehilangan harapan. Pasalnya, tinggal dua hari lagi aku di sini sebelum akhirnya kembali ke perantauanku dan di sela-sela itu aku terus berdoa doa yang sama. Atau mungkin karena di sini tak ada bukit yang pohonnya besar-besar seperti yang kubayangkan tadi? Atau...memang karena kau yang sama sekali tak mengenalku hingga tak ada keinginan untuk bertemu?
Nee, kenapa jadi berasa oranye begini?
Hei, As**r, menurutmu apa yang harus kulakukan sekarang? Diam seperti ini terus menunggu kedatanganmu dan berpegang teguh pada doa? Atau berhenti melangkah dan membiarkan semua berjalan sesuai takdir Ilahi?
Kuharap, bisikan ini sampai padamu.
Kuharap, bisikan ini sampai padamu.
No comments:
Post a Comment