Saturday, July 9, 2016

Blue

Tak lama lagi. Dalam hitungan jam, aku akan kembali lagi ke kebiasaan lamaku. Pun begitu, tak dapat dipungkiri bahwa hati ini masih setia menghitung detik-detik kehadiranmu. Apa memang aku harus menyerah? Ini semua terasa sia-sia. Mungkin memang akunya yang terlalu berharap. Berharap pada sesuatu yang bahkan belum dimulai.
Nee, As**r. Aku ingin sekali mengatakan "hello" dan bukannya "sayonara". Walaupun aku bisa mengucapkan "hello" sekalipun, aku tak akan pernah mengucapkan "sayonara", karena memang aku tak ingin mengucapkannya. Tapi, melihat diriku yang tak membawakan hasil sama sekali ini setelah sekian lama menjadi fans gelapmu, rasanya tak ada kata yang pantas selain "sayonara". Menyerah, heh?  Mungkin memang "iya."
Selain karena aku yang capek selepas pulang dari pantai, juga karena batinku juga lelah. Lelah menantimu.
Ada beberapa lagu yang mengingatkanku terhadapmu. Lagu pertama, "Ya Nabi Salam" ciptaan Opik. Lagu ini membawaku  bernostalgia ke masa lalu, kala kita sama-sama menjadi peserta di suatu ajang perlombaan agama, dan kala mataku terpaku padamu. Kesannya aku jadi bersemangat untuk terus "menyimpanmu".
Lagu kedua, Kun Anta karya Humood Al-kudeir. Aku akhirnya bisa menemukanmu aktif di salah satu jejaring sosial "instagram". Aku mulai membuat akunku dan pasti sudah bisa ditebak apa yang kulakukan. Beberapa temanku banyak yang membicarakan Kun Anta sebagai buku fenomenal untuk dibaca kalangan muslim. Entah mengapa aku jadi menghubungkannya denganmu. Nee, dari situ aku menjadi lebih bersemangat. Mungkin karena lagunya yang terkesan menyenangkan.
Dan ketiga, entah mengapa lagu ini bisa mengingatkanku akan dirimu. Lagu yang terkesan menyedihkan ini bertepatan dengan diriku yang mulai menyerah akan dirimu. Semakin hari semakin bimbang untuk mempertahankan perasaan. Bukan blue tapi "Orange" karya 7.
Untuk lirik memang tak ada hubungannya. Tapi, nadanya memang cocok untuk suasana hatiku.
Semoga Orange nggak berubah ke Blue. Semoga harapan ini terbalaskan.
Sekali lagi, dengarkan bisikan hatiku ini, nee As***.

Orange

Aku ingin sekali bercerita ini dan itu kepadamu. Terkadang aku membayangkan aku seorang diri berjalan ke atas bukit, lalu memilih salah satu dari pohon-pohon besar di sana (sayang sekali Indonesia yang berada di iklim tropis tidak mempunyai pohon yang seperti itu.), kemudian duduk dan memandang kejauhan, merenung, memikirkan apa saja yang pantas dipikirkan saat itu. Dan tak lama kemudian kau datang, entah karena kau yang penasaran kenapa seorang gadis duduk sendirian di bawah pohon, atau karena tidak sengaja ponselmu jatuh saat mengambil foto tak jauh dari posisi dudukku, hingga mau tak mau aku memalingkan wajah untuk melihatmu. Dan muncullah percakapan di antara kita. Nee, As***.
Lebaran 1437 H, kita sama-sama pulang ke kampung halaman kita. Kau yang merantau ke seberang provinsi (oke, agak maksa kesannya) dan aku yang memperjuangkan hidupku demi sepuluk nasi di kota tetangga, akhirnya punya kesempatan bertemu setelah hampir empat tahun lamanya berpisah. Pun begitu, aku tak yakin kau masih mengenaliku yang diam-diam hanya berperan sebagai penggemar gelapmu (Yaah, setidaknya aku bukan penguntit gelap.). Sudah hampir satu minggu aku di kota halamanku tapi tak muncul juga tanda-tanda kita akan bertemu, aku mulai kehilangan harapan. Pasalnya, tinggal dua hari lagi aku di sini sebelum akhirnya kembali ke perantauanku dan di sela-sela itu aku terus berdoa doa yang sama. Atau mungkin karena di sini tak ada bukit yang pohonnya besar-besar seperti yang kubayangkan tadi? Atau...memang karena kau yang sama sekali tak mengenalku hingga tak ada keinginan untuk bertemu?
Nee, kenapa jadi berasa oranye begini?
Hei, As**r, menurutmu apa yang harus kulakukan sekarang? Diam seperti ini terus menunggu kedatanganmu dan berpegang teguh pada doa? Atau berhenti melangkah dan membiarkan semua berjalan sesuai takdir Ilahi?
Kuharap, bisikan ini sampai padamu. 


Waspada Modus Penipuan Jual Beli Ayam: Mencatut Nama PT Japfa Comfeed Indonesia

Belakangan ini, jagat media sosial—khususnya Facebook—sedang marak dengan modus penipuan yang menyasar para peternak atau pembeli ayam. Miri...