Sunday, January 14, 2018

Mengajari Anak Berkebutuhan Khusus part 1



Mengajari Anak Berkebutuhan Khusus part 1


Dalam hal ini, mengajari yang dimaksud adalah mengajari pelajaran layaknya di sekolah atau tempat kursus.

Kebetulan karena Zee kerja di salah satu lembaga pendidikan yang ada di Surabaya dan kebetulan, ini pertama kali Zee handle murid berkebutuhan khusus. Wow, pengalaman baru banget.

Pertama kali lihat dia, aku udah ngerasa ‘anak ini berbeda’. Aku tak yakin mau menyebutnya autis, karena dari isu yang pernah kudengar semasa kecil, autis itu punya ciri khas wajah yang cenderung mirip sesama autis. Tapi, di samping itu aku tak bisa menyebutkan, tipe kebutuhan khusus seperti apa dia. *Emang kebutuhan khusus ada tipenya?*

Diaitu super aktif, nggak bisa diajak duduk, dan apapun itu selalu dipengangnya.Yang lebih mengejutkannya lagi, dia itu suka memeluk. Benar-benar deh, waktu itu akulah yang pertama kalinya dia peluk dan itu pun sulit untuk dilepaskan.

Aku mulai bertanya-tanya apakah dia juga seperti ini di rumah?

Pelukannya yang erat serta caranya dia yang cenderung memeluk siapa itu yang menyapanya, membuatku mulai berpikir ‘mungkin dia tak mendapatkan perlakuan yang mengenakkan di sekolahnya, hingga ia cenderung mencoba mencari kasih sayang.

Dipikirnya, pelukan itu salah satu bentuk kasih sayang.’

Wajarsaja, dia memang ‘berbeda’.

Mamanya pun sepertinya enggan menolak setiap permintaannya. Yah, aku bisa memahami. Apabila aku di posisi sang mama, aku pasti akan memberikan perhatian khusus juga untuk anakku.

Di acara Parent Orientation pun, aku tak berani menanyakan apa yang mengganggu anaknya, menjaga kode etik dan perasaan orang tua, di samping kita pada dasarnya memang bukan pada tempatnya menanyakan hal yang sepertinya terkesan tidak sopan ini.

Si anak ini mempunyai seorang kakak perempuan. Dia kelas 6 SD. Kepribadiannya pendiam dan dilihat sekilas aja, dia anak yang pintar, tapi cukup pemalu. Kita harus yang menjadi pertama yang mendekatinya.

Di hari pertama kita ng-handle anak berkebutuhan khusus ini, ada satu hal yang kupelajari. Dia itu sebanarnya anak pintar. Dia bisa cepat menyerap hal baru, yang lebih bagusnya lagi, ingatan jangka pendeknya sangat kuat. Dia mempunyai jawaban khusus dari pertanyaan kita yang kita sendiri tak bisa menebak jawaban itu.

Intinya, pola pikirnya tidak seperti orang normal pada umumnya.

Dia sempat mengucapkan kata-kata kotor. Kita berusaha mendekati dia, membujuknya dengan apapun itu agar dia mau belajar. Hasilnya, lumayan melegakan, karena pun hanya satu set lembar belajar, paling tidak dia bisa duduk barang untuk dua/tiga menit untuk belajar.

Karena ucapannya yang kotori tulah, aku sempat keceplosan menceritakannya pada staff lainnya. Waktu itu aku tak menyadari kalau di ruangan yang sama, ada kakaknya yang juga sedang belajar *mereka sengaja dipisah tempat belajar supaya tidak saling mengganggu, pikir kami*.

Kala itu aku tak sadar akan ucapanku sendiri yang menjelek-jelekkan anak itu, pun sebenarnya itu memang kenyataan. Dan bisa saja kalimat yang kulontarkan itu menyakiti hati sang kakak.

Bodohnya aku. Di sepanjang perjalanan pulang itulah aku menyadari dan aku menyesal. Berharap dalam hati, sang kakak tak mendengarkan apa yang aku katakan sebelumnya. Maka, apabila sang kakak mendengarnya, sudah jelas aku memang salah.

Dari situ, aku tak henti-hentinya merutuk hati. Maka, untuk menenangkan hati yang gundah itu serta sebagai bukti penyesalanku, aku bertekad, akan berusaha membuat anak itu mau belajar, sesusah apapun itu. Aku takkan kabur.

Tapi, harus bersiap diri juga kalau ternyata justru dia yang kabur. :P

Tiba-tiba aku teringat salah satu postingan instagram yang lama.

“Aku itu seneng sama seseorang yang punya ‘kekurangan’. Entah kenapa, mereka seolah menjadi sebuah teka-teki yang menyimpan harta karun yang juga menjadi sebuah kelebihan yang hanya dimiliki mereka dan jarang dimiliki orang normal.”

“Menemukannya adalah sebuah kebanggaan dan ke….apaya? Nggak bisa nemuin kata-kata.”

“Alloh itu Maha Adil. Di balik kerang yang tak bisa mengeluarkan nada seindah lumba-lumba ataupun paus. Juga yang tak bersayap memukau layaknya ikan pari, tersimpan mutiara murni yang hanya ia yang memilikinya.”

“Atau orang lain bilang, ‘Air matanya begitu berharga’. Penderitaan orang-orang itu sebanding kelebihan yang mereka miliki.”

Nee~, insyaAlloh postingan berikutnya Zee bakal bahas petualangan Zee dengan anak berkebutuhan khusus ini. Doakan Zee Minna! Jaa,

Berbagi itu indah.

Waspada Modus Penipuan Jual Beli Ayam: Mencatut Nama PT Japfa Comfeed Indonesia

Belakangan ini, jagat media sosial—khususnya Facebook—sedang marak dengan modus penipuan yang menyasar para peternak atau pembeli ayam. Miri...