Mengajari Anak Berkebutuhan Khusus part 1
Dalam hal ini, mengajari yang
dimaksud adalah mengajari pelajaran layaknya di sekolah atau tempat kursus.
Kebetulan karena Zee kerja di
salah satu lembaga pendidikan yang ada di Surabaya dan kebetulan, ini pertama kali
Zee handle murid berkebutuhan khusus. Wow, pengalaman baru banget.
Pertama kali lihat dia, aku udah ngerasa
‘anak ini berbeda’. Aku tak yakin mau menyebutnya autis, karena dari isu yang
pernah kudengar semasa kecil, autis itu punya ciri khas wajah yang cenderung mirip sesama autis. Tapi,
di samping itu aku tak bisa menyebutkan, tipe kebutuhan khusus seperti apa dia. *Emang kebutuhan khusus ada tipenya?*
Diaitu super aktif, nggak bisa diajak duduk,
dan apapun itu selalu dipengangnya.Yang lebih mengejutkannya lagi,
dia itu suka memeluk. Benar-benar deh, waktu itu akulah yang pertama kalinya dia peluk dan itu pun sulit untuk dilepaskan.
Aku mulai bertanya-tanya apakah dia juga seperti ini
di rumah?
Pelukannya yang erat serta caranya dia yang
cenderung memeluk siapa itu yang menyapanya, membuatku mulai berpikir
‘mungkin dia tak mendapatkan perlakuan yang mengenakkan di sekolahnya,
hingga ia cenderung mencoba mencari kasih sayang.
Dipikirnya,
pelukan itu salah satu bentuk kasih sayang.’
Wajarsaja, dia memang ‘berbeda’.
Mamanya pun
sepertinya enggan menolak setiap permintaannya. Yah, aku bisa memahami. Apabila aku di
posisi sang mama, aku pasti akan memberikan perhatian khusus juga untuk anakku.
Di acara Parent Orientation pun,
aku tak berani menanyakan apa yang mengganggu anaknya, menjaga kode etik dan perasaan
orang tua, di samping kita pada dasarnya memang bukan pada tempatnya menanyakan hal yang
sepertinya terkesan tidak sopan ini.
Si
anak ini mempunyai seorang kakak perempuan. Dia kelas 6 SD.
Kepribadiannya pendiam dan dilihat sekilas aja, dia anak yang pintar,
tapi cukup pemalu. Kita harus yang menjadi pertama yang mendekatinya.
Di hari pertama kita ng-handle anak berkebutuhan khusus ini,
ada satu hal yang
kupelajari. Dia itu sebanarnya anak pintar. Dia bisa cepat menyerap hal baru, yang
lebih bagusnya lagi,
ingatan jangka pendeknya sangat kuat. Dia mempunyai jawaban khusus dari pertanyaan kita
yang kita sendiri tak bisa menebak jawaban itu.
Intinya, pola pikirnya tidak seperti orang
normal pada umumnya.
Dia sempat mengucapkan kata-kata kotor. Kita
berusaha mendekati dia, membujuknya dengan apapun itu agar dia mau belajar. Hasilnya,
lumayan melegakan, karena pun hanya satu set lembar belajar, paling
tidak dia bisa duduk barang untuk dua/tiga menit untuk belajar.
Karena ucapannya yang kotori tulah,
aku sempat keceplosan menceritakannya pada staff
lainnya. Waktu itu aku tak menyadari kalau di ruangan yang sama, ada kakaknya yang
juga sedang belajar
*mereka sengaja dipisah tempat belajar supaya tidak saling mengganggu, pikir kami*.
Kala itu aku tak sadar akan ucapanku sendiri yang
menjelek-jelekkan anak itu, pun sebenarnya itu memang kenyataan. Dan bisa saja kalimat
yang kulontarkan itu menyakiti hati sang kakak.
Bodohnya aku. Di
sepanjang perjalanan pulang itulah aku menyadari dan aku menyesal. Berharap dalam hati,
sang kakak tak mendengarkan apa yang aku katakan sebelumnya. Maka, apabila sang
kakak mendengarnya, sudah jelas aku memang salah.
Dari situ,
aku tak henti-hentinya merutuk hati. Maka, untuk menenangkan hati yang
gundah itu serta sebagai bukti penyesalanku, aku bertekad,
akan berusaha membuat anak itu mau belajar, sesusah apapun itu. Aku takkan kabur.
Tapi,
harus bersiap diri juga kalau ternyata justru dia yang kabur. :P
Tiba-tiba aku teringat salah satu postingan instagram
yang lama.
“Aku itu seneng sama seseorang yang punya
‘kekurangan’. Entah kenapa, mereka seolah menjadi sebuah teka-teki yang
menyimpan harta karun yang juga menjadi sebuah kelebihan yang
hanya dimiliki mereka dan jarang dimiliki orang normal.”
“Menemukannya adalah sebuah kebanggaan dan ke….apaya? Nggak bisa nemuin
kata-kata.”
“Alloh itu Maha Adil. Di balik kerang yang
tak bisa mengeluarkan nada seindah lumba-lumba ataupun paus. Juga yang
tak bersayap memukau layaknya ikan pari, tersimpan mutiara murni yang hanya ia yang
memilikinya.”
“Atau orang lain bilang, ‘Air
matanya begitu berharga’. Penderitaan orang-orang itu sebanding kelebihan yang
mereka miliki.”
Nee~, insyaAlloh postingan berikutnya Zee
bakal bahas petualangan Zee dengan anak berkebutuhan khusus ini. Doakan Zee Minna! Jaa,